Perubahan iklim semakin menjadi tantangan serius bagi banyak negara berkembang. Dengan ketergantungan pada sumber daya alam dan kelemahan infrastruktur, dampaknya sangat terasa, terutama dalam aspek ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Sektor pertanian adalah salah satu yang paling terpengaruh. Negara berkembang, seperti Indonesia dan Bangladesh, mengalami perubahan pola curah hujan yang mengancam hasil panen. Misalnya, penggundulan hutan di wilayah tropis mengganggu pola iklim lokal, mengakibatkan gagal panen dan kehilangan pendapatan bagi petani. Dalam jangka panjang, ketidakamanan pangan menjadi isu utama yang mengancam kehidupan masyarakat.

Di sektor kesehatan, peningkatan suhu global juga berdampak pada epidemiologi penyakit. Penyakit seperti malaria dan dengue diperkirakan meningkat prevalensinya seiring dengan perubahan habitat nyamuk. Di beberapa wilayah Afrika, gelombang panas yang lebih sering menyebabkan kematian, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia, meningkat pesat. Ketersediaan air bersih juga terpengaruh, memicu masalah kesehatan akibat peningkatan polusi dan penyakit yang menyebar melalui air.

Ekosistem yang rapuh di negara berkembang berisiko tinggi. Terumbu karang di negara-negara kepulauan seperti Maladewa dan Filipina mengalami pemutihan akibat peningkatan suhu laut dan keasaman air. Ini tidak hanya mempengaruhi keanekaragaman hayati tetapi juga menurunkan pendapatan dari sektor pariwisata yang menjadi andalan negara tersebut. Pengurangan keanekaragaman hayati juga mempengaruhi kestabilan ekosistem, mengganggu rantai makanan, dan mengancam spesies yang bergantung pada habitat tertentu.

Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir berhadapan dengan ancaman peningkatan permukaan air laut. Contohnya, kota-kota di Bangladesh sudah mengalami pengungsian massal akibat banjir yang sering terjadi. Realitas ini menciptakan ketegangan sosial dan memunculkan risiko konflik antar komunitas dalam berebut sumber daya yang semakin menipis.

Laporan terbaru dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menekankan pentingnya tindakan mitigasi yang segera. Masyarakat di negara berkembang yang memiliki kapasitas terbatas perlu dukungan internasional dalam bentuk teknologi ramah lingkungan dan pengembangan kapasitas. Proyek adaptasi yang terintegrasi dengan kebijakan lokal bisa membantu mengurangi dampak negatif dari perubahan iklim.

Usaha untuk meningkatkan ketahanan iklim juga harus melibatkan kolaborasi dengan sektor swasta. Investasi dalam teknologi hijau, seperti energi terbarukan, dapat memberikan solusi jangka panjang sambil menciptakan lapangan kerja baru. Kesadaran akan perubahan iklim perlu diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan agar generasi mendatang lebih siap menghadapi tantangan ini.

Tak kalah pentingnya, peningkatan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim akan memicu gerakan kolektif untuk melakukan tindakan nyata. Program-program komunitas yang berkelanjutan, yang mendidik masyarakat tentang cara beradaptasi dengan perubahan lingkungan, sangat diperlukan. Kandidat pemimpin lokal harus diikutsertakan, sehingga perencanaan yang dilakukan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan, pendekatan berbasis ekosistem bisa menjadi alternatif. Melindungi dan memulihkan ekosistem alami bukan hanya memperbaiki keadaan lingkungan tetapi juga memberikan layanan ekosistem yang vital bagi komunitas. Misalnya, reboisasi hutan mangrove tidak hanya melindungi pantai dari abrasi tetapi juga menyediakan habitat bagi berbagai spesies, memperkuat ketahanan pangan lokal.

Setiap upaya mitigasi dan adaptasi harus dilakukan secara inklusif, melibatkan semua pemangku kepentingan. Para pembuat kebijakan, ilmuwan, dan organisasi non-pemerintah perlu berkolaborasi dalam penelitian dan pengembangan solusi berbasis sains. Dengan adanya kerjasama internasional, negara berkembang dapat lebih proaktif dalam mengatasi isu perubahan iklim dan mempersiapkan langkah-langkah adaptasi yang tepat.